Jogja

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengizinkan para siswa SMA 17 menggunakan Sasana Hinggil untuk kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan Ujian Nasional pekan depan.

Sultan menyatakan prihatin dengan kondisi siswa SMA 17 yang menjadi korban konflik sengketa tanah antara sekolah dengan pihak ahli waris yayasan. Konflik itu bahkan menyebabkan gedung sekolah rusak dan situasi keamanan yang tidak terjamin, sementara Ujian Nasional dilaksanakan pada 16-19 April pekan depan.

Agar para siswa SMA 17 tenang, Sultan mempersilakan mereka menggunakan Sasana Hinggil untuk kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan UN. "Yang terpenting anak-anak tidak elajar di luar. Saya ingin menolong anak didik supaya proses berlajar tetap berjalan semestinya," ujar Sultan yang juga Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (10/4/2012).

Sultan juga mempersilakan sekolah itu menggunakan Youth Center Sleman.

Meskipun demikian, Sultan enggan berkomentar soal konflik antara sekolah dengan ahli waris SMA 17. "Saya tidak dalam ranah itu, karena masalah itu menjadi masalah Pemerintah Kota. Biarkan masalah ini diselesaikan oleh Wali Kota," kata Sultan.

Sebelumnya, Sabtu (7/4/2012) gedung SMA 17 Yogyakarta dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Serangan itu sudah lebih dari tiga kali. Akibat kerusakan bangunan sekolah, para siswa SMA 17 terpaksa belajar di luar ruangan.

Kepala Sekolah SMA 17, Suyadi, mengapresiasi sikap positif para siswa. "Siswa tetap semangat belajar meski semua fasilitas sudah rusah. Kami sebagai guru juga tetap semangat. Mereka adalah generasi penerus. Itu yang membuat kami terus bertahan dan tetap semangat, meski kondisi sekolah yang dirusak oleh orang tidak bertanggungjawab," ujar Suyadi.

Suyadi menerangkan Yayasan Pendidikan 17 didirikan oleh Bonaventura Harjono pada 1958. Keturunannya, Bedasaktirin Harjanto sejak beberapa tahun lalu mencoba mengambil alih kepemimpinan yayasan dengan mendaftarkan ulang ke Kemenhumkam dengan nama Yayasan Pengembangan Pendidikan 17 atas nama Rin Haryani, istrinya. Luas tanah yang saat ini menjadi gedung sekolah itu sekitar 5.558 meter persegi.

Sumber :
http://regional.kompas.com/read/2012...Sasana.Hinggil

Patut dicontoh :iloveindonesias

misacampo 10 Apr, 2012