Misteri siapa pelaku penembakan pesawat maskapai penerbangan Trigana, Minggu, (8/4), yang menewaskan seorang jurnalis Papua Pos, Leiron Kogoya Muliambut, dan melukai empat orang lainnya, sampai sekarang masih misterius. Tetapi tidak demikian dengan Muchyar Yara. Pengamat intelijen ini menilai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dibantu Australia di belakang insiden penembakan tersebut.

"Kalau pihak aparat keamanan dan tentara Indonesia sangat tidak mungkin, karena jika itu dilakukan justru akan menambah keruwetan dan memberikan stigma negatif bagi Indonesia. Saya masih berpendapat itu, itu tidak dilakukan TNI maupun Polri. Mungkin saja, pihak OPM yang telah mendapat pelatihan sniper dari militer Australia," jelas Muchyar Yara ketika dihubungi itoday, Selasa (10/4)

Pengamat intelijen ini juga memperkirakan, pelaku penembakan pesawat Trigana adalah simpatisan OPM dari Papua Nugini yang mendapatkan pelatihand militer dari Australia. Menurutnya, Australia memberikan pelatihan di daerah pasifik, seperti di Vanuatu dan Papua Nugini.

Isu mengenai adanya bantuan pelatihan militer Australia bagi kelompok pro Papua Merdeka, bukanlah isu baru dan bukan angin lalu belaka. Sebab, jika melihat dari buku putih pertahanan Australia, negara kangguru ini menilai ancaman potensialnya berasal dari utara.

"Utara itu ya Indonesia, dan Papua menjadi bagian Indonesia," ungkapnya.

Karena memiliki kepentingan itulah, Australia lalu memberikan pelatihan bagi OPM di kawasan Pasifik. Wilayah ini dipilih, karena orang-orang di wilayah Pasifik memiliki rasa empati kepada perjuangan kemerdekaan Papua.

Menurut Muchyar Yara, dalam memberikan bantuan pelatihan militer, Australia mengirimkan orang sipil ke Papua dengan kedok LSM.

"Australia mengirimkan orang-orang sipil ke Papua dengan cover LSM, padahal tujuannya untuk membantu kelompok OPM, " ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai mengapa pemerintah tidak menangkap orang-orang yang membantu OPM, Muchyar Yara kembali menekankan, bahwa orang-orang tersebut menggunakan kedok LSM. Tetapi dirinya yakin, intelijen Indonesia sudah mengetahui pergerakan intel asing yang memakai kedok LSM.

"Mereka pakai cover LSM, tetapi saya yakin intelijen Indonesia sudah mengetahui pergerakan mereka," pungkasnya.*

SUMBER

tirulec 10 Apr, 2012