Denny Diminta Tetap Pimpin Sidak Lapas
![[imagetag]](https://lh3.googleusercontent.com/blogger_img_proxy/AEn0k_sGMbwqEG-Pls61oPtX00JfhlEYPSqHHr82mf6GVjvRH5t-I0CG5o8Z9yUgHiOrNmrzUptyYc5H61fI7GTKZZlNhaCEUqdxHtnwwD1WkWzLd7vLaYqGdgbZ=s0-d)
TEMPO.CO, Jakarta-Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas (Unand), Saldi Isra meminta pimpinan operasi mendadak narkoba ke lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan tetap dipimpin Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana. "Harus diserahkan ke Denny, kalau dipindahkan ke orang lain itu menyalahi," ujar Saldi saat dihubungi, Ahad, 8 April 2012.
Menurut Saldi, selama memimpin sidak narkoba ke beberapa lembaga pemasyarakatan, Denny telah menunjukkan hasil positif. Tidak hanya berhasil menangkap narapidana pengedar dan pemakai narkoba, tim satuan tugas pemberantasan narkoba yang terdiri dari Kementerian Hukum dan HAM dan Badan Narkotika Nasional juga menemukan indikasi keterlibatan sipir lapas. Seperti saat sidak di Lapas Pekanbaru, 2 April dinihari, tim satgas berhasil menangkap seorang sipir.
Denny juga dinilai memiliki semangat dan keinginan kuat untuk membersihkan lapas dari peredaran narkoba. Bahkan kata Saldi, tak hanya soal narkoba, itikad Denny juga terlihat dalam memperbaiki berbagai persoalan lapas seperti kelebihan kapasitas dan kualitas lapas.
Sebelumnya Menteri Amir sempat membekukan nota kesepahaman antara Kementerian dan BNN dalam soal pemberantasan narkotik di penjara. Pembekuan dilakukan setelah insiden Wakil Menteri Denny Indrayana yang disebut-sebut menampar petugas penjara saat melakukan inspeksi mendadak di Penjara Kelas IIA Pekanbaru, Selasa dinihari lalu. Akibatnya, 33 kepala divisi pemasyarakatan datang ke Jakarta menyampaikan kegalauan mereka soal insiden itu.
Rencananya pembekuan ini akan segera berakhir, dan Rabu, 11 April 2012 kerjasama bisa dilanjutkan kembali. "Saya telah berembuk dengan Kepala BNN dan deputinya. Sebelum Rabu sudah terwujud dan sudah ada SOP (standar operasi) yang efektif," ujar Amir Kamis lalu. Beberapa langkah standar operasi yang akan dipertajam itu, misalnya, penggunaan alat komunikasi antibocor dan sistem koordinasi yang lebih ketat.
Saldi mengingatkan, dalam pelaksanaan sidak lapas setelah pembekuan dicabut, setiap instansi di bawah Kemenkumham harus bisa menjaga komunikasi. Dia berharap komplain dari Direktur Jenderal Pemasyarakat dan sipir lapas dan rutan tidak lagi terulang. "Pengalaman reaksi Dirjen Pas terhadap dugaan penamparan oleh Denny itu merusak logika birokrasi," ujar dia.
Menurut Saldi, penolakan Dirjen Pas secara terbuka membuktikan adanya perlawanan. Bahkan menurut Saldi perlawanan itu cenderung diarahkan ke perdebatan politik. Karenanya, Saldi meminta Menteri Amir lebih tegas dalam melaksanakan kebijakan dan bertindak pada bawahannya.
Sumber
Aneh !! wamen mau memberantas narkoba yang juga dijajarannya sendiri..malah yang diangkat isu penamparan.Termasuk media televisi ga fair dalam pemberitaan.apakah nedia hanya mementingkan rating??lebih penting mana rating dibanding keselamatan generasi muda indonesia..??cobalah dikaji lagi media pemberitaan indonesia..jangan hanya mngejar rating tapi mengorbankan kepentingan bangsa demi popularitas..terutama untuk metro..terlebih TV 1..yang kita nontonnya aja mpe mual..itu itu aja yang dibahas.Bravo Pak deny, maju terus berantas narkoba..juga sikat bawahan anda yang jelas jelas menentang anda demi membela narkoba...
TEMPO.CO, Jakarta-Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas (Unand), Saldi Isra meminta pimpinan operasi mendadak narkoba ke lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan tetap dipimpin Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana. "Harus diserahkan ke Denny, kalau dipindahkan ke orang lain itu menyalahi," ujar Saldi saat dihubungi, Ahad, 8 April 2012.
Menurut Saldi, selama memimpin sidak narkoba ke beberapa lembaga pemasyarakatan, Denny telah menunjukkan hasil positif. Tidak hanya berhasil menangkap narapidana pengedar dan pemakai narkoba, tim satuan tugas pemberantasan narkoba yang terdiri dari Kementerian Hukum dan HAM dan Badan Narkotika Nasional juga menemukan indikasi keterlibatan sipir lapas. Seperti saat sidak di Lapas Pekanbaru, 2 April dinihari, tim satgas berhasil menangkap seorang sipir.
Denny juga dinilai memiliki semangat dan keinginan kuat untuk membersihkan lapas dari peredaran narkoba. Bahkan kata Saldi, tak hanya soal narkoba, itikad Denny juga terlihat dalam memperbaiki berbagai persoalan lapas seperti kelebihan kapasitas dan kualitas lapas.
Sebelumnya Menteri Amir sempat membekukan nota kesepahaman antara Kementerian dan BNN dalam soal pemberantasan narkotik di penjara. Pembekuan dilakukan setelah insiden Wakil Menteri Denny Indrayana yang disebut-sebut menampar petugas penjara saat melakukan inspeksi mendadak di Penjara Kelas IIA Pekanbaru, Selasa dinihari lalu. Akibatnya, 33 kepala divisi pemasyarakatan datang ke Jakarta menyampaikan kegalauan mereka soal insiden itu.
Rencananya pembekuan ini akan segera berakhir, dan Rabu, 11 April 2012 kerjasama bisa dilanjutkan kembali. "Saya telah berembuk dengan Kepala BNN dan deputinya. Sebelum Rabu sudah terwujud dan sudah ada SOP (standar operasi) yang efektif," ujar Amir Kamis lalu. Beberapa langkah standar operasi yang akan dipertajam itu, misalnya, penggunaan alat komunikasi antibocor dan sistem koordinasi yang lebih ketat.
Saldi mengingatkan, dalam pelaksanaan sidak lapas setelah pembekuan dicabut, setiap instansi di bawah Kemenkumham harus bisa menjaga komunikasi. Dia berharap komplain dari Direktur Jenderal Pemasyarakat dan sipir lapas dan rutan tidak lagi terulang. "Pengalaman reaksi Dirjen Pas terhadap dugaan penamparan oleh Denny itu merusak logika birokrasi," ujar dia.
Menurut Saldi, penolakan Dirjen Pas secara terbuka membuktikan adanya perlawanan. Bahkan menurut Saldi perlawanan itu cenderung diarahkan ke perdebatan politik. Karenanya, Saldi meminta Menteri Amir lebih tegas dalam melaksanakan kebijakan dan bertindak pada bawahannya.
Sumber
Aneh !! wamen mau memberantas narkoba yang juga dijajarannya sendiri..malah yang diangkat isu penamparan.Termasuk media televisi ga fair dalam pemberitaan.apakah nedia hanya mementingkan rating??lebih penting mana rating dibanding keselamatan generasi muda indonesia..??cobalah dikaji lagi media pemberitaan indonesia..jangan hanya mngejar rating tapi mengorbankan kepentingan bangsa demi popularitas..terutama untuk metro..terlebih TV 1..yang kita nontonnya aja mpe mual..itu itu aja yang dibahas.Bravo Pak deny, maju terus berantas narkoba..juga sikat bawahan anda yang jelas jelas menentang anda demi membela narkoba...
putrachan 09 Apr, 2012
