Listrik Sumatra Dijual ke Malaysia
JAKARTA SINGGALANG Kabar mengejutkan dari PLN. Di saat listrik sering pudur dan masyarakat diminta melakukan penghematan, justru listrik Sumatra akan dijual ke negara tetangga. Sebaliknya untuk beberapa daerah di Kalimantan, dibeli dari Malaysia.
Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PLN Nur Pamudji dikutip detikcom, Sabtu (7/4). "PLN akan menjual listrik ke Malaysia dari Sumatra, dan akan membeli dari Malaysia di Kalimantan Barat," jelas Nur Pamudji.
Dia mengatakan, jumlah listrik yang akan dijual PLN ke Malaysia jauh lebih besar ketimbang listrik yang dibeli oleh perusahaan listrik pelat merah ini dari Malaysia. "Yang dijual jauh lebih besar dari yang dibeli," katanya.
Namun Nur Pamudji tidak menerangkan lebih jauh berapa besaran kapasitas listrik yang akan dijual PLN ke negeri jiran tersebut.
Sebelumnya Dirjen Listrik Jarman mengatakan, PLN tengah memproses pembelian listrik dari Sarawak, Malaysia. Dengan kapasitas 50 megawatt (MW), listrik dari negeri jiran ini akan menerangi daerah perbatasan di Kalimantan Barat.
Jarman menjelaskan saat ini kebutuhan listrik di daerah perbatasan cukup besar. Menurutnya, sesuai syarat dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 tahun 2012, pemerintah diperbolehkan mengimpor listrik untuk memenuhi kebutuhan dan tidak menjadi pasokan utama.
Jarman menuturkan, pemilihan Sarawak karena selain lokasi dekat, harga listrik dari daerah tersebut juga lebih murah. Pemerintah yakin, bila proses pembelian ini terealisasi, bisa menghemat biaya operasional.
"Harganya lebih murah. Di daerah Kalimantan dan perbatasan sekitarnya yang dekat Malaysia butuh suplai listrik karena rata-rata masih menggunakan BBM fosil," ujar Jarman.
Jarman menambahkan, saat ini pasca terbitnya PP nomor 42/2012, baru daerah Kalimantan Barat yang melakukan proses pembelian listrik. Namun, pemerintah masih tetap mengupayakan daerah perbatasan lain bila kekurangan pasokan listrik.
Dikatakan dia, hal ini menjadi prioritas pemerintah untuk memenuhi pasokan listrik di dalam
negeri. Selain itu, saat ini pun, Pemerintah belum memiliki keinginan untuk mengekspor listrik karena ingin fokus untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.
Lebih jauh Jarman mengatakan pembelian listrik melalui impor ini juga untuk memperkuat jaringan pasokan antar negara di Asean. Kalau Indonesia nanti sudah bisa memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, Malaysia pun bila membutuhkan bisa membeli listrik. "Tujuannya ke depan bisa saling ada koneksi antar pasokan negara," sebutnya.
Ditender
PLN segera tender proyek interkoneksi jaringan sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatra yang sekarang masih terpisah, direncanakan saling terhubung dalam satu jaringan interkoneksi.
PLN tengah mengembangkan proyek interkoneksi Sumatera-Jawa melalui sistem transmisi kelistrikan yang disebut teknologi Tegangan Tinggi Arus Searah (High Voltage Direct Current/HVDC).
Manajer Senior Komunikasi Korporat, Bambang Dwiyanto mengatakan April ini, PLN mulai menawarkan tender pembangunan proyek interkoneksi Sumatra-Jawa kepada para kontraktor yang berpengalaman mengerjakan proyek-proyek kelistrikan.
Proyek direncanakan mulai dibangun pada 2013 dan ditargetkan beroperasi pada 2017.
Dengan proyek ini, ke depan dimungkinkan menyalurkan energi listrik dari sejumlah pembangkit yang ada di Sumatra Selatan ke Jawa maupun dari pembangkit di Jawa ke Sumatera untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera maupun Jawa-Bali.
"Sistim interkoneksi yang akan dibangun, dirancang mampu menyalurkan daya sebesar 3.000 MW dari Sumatra ke Jawa-Bali maupun sebaliknya," kata Bambang, Minggu (8/4).
Bambang menyebutkan, PLN sedang merintis pembangunan PLTU Mulut Tambang batubara berkalori rendah dengan kapasitas total 3.000 MW di kawasan pertambangan batubara Sumatra Selatan.
"Sedangkan di Jawa juga tengah dibangun pembangkit dalam program Fast Track Program (FTP) 1 serta pembangkit swasta berupa PLTU batubara dengan kapasitas di atas 10.000 MW yang akan memperkuat sistem Jawa," katanya.
Menurut skala ekonomi, sistem kelistrikan dengan pembangkit dan beban yang makin besar akan lebih efisien. Oleh karenanya penggabungan sistem kelistrikan di Jawa-Bali dengan kapasitas terpasang lebih dari 30.000 MW dengan sistem kelistrikan Sumatra dengan beban sekitar 5.000 MW akan berakibat pada peningkatan efektifitas penggunaan energi murah dengan skala ekonomi yang lebih efisien.
Hal ini juga dimaksud memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatra dan Jawa-Bali yang di masa mendatang akan terus meningkat seiring dengan semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi di kedua pulau tersebut.
"Proyek interkoneksi Sumatra-Jawa terdiri dari stasiun pengubah listrik AC menjadi DC (stasiun konverter) di Muara Enim dan listrik DC akan diubah kembali menjadi listrik AC (stasiun inverter) di Bogor," jelasnya.
Dijelaskan Bambang, rute yang akan dilewati proyek pembangunan interkoneksi Sumatra-Jawa, di wilayah Sumatra, Kabupaten Muara Enim, Ogan Komering Ulu, OKU Timur, Ogan Komering Ilir di Sumatra Selatan.
Di Lampung meliputi Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Tengah, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Sedangkan untuk Jawa akan melewati Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak di Banten serta Kabupaten Bogor di Jawa Barat.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra-Jawa diperkirakan mencapai sekitar Rp20 triliun dan sumber dana pembangunan proyek sebagian besar berasal dari Loan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan dana pendamping dari anggaran PLN.
"Dalam kegiatan enjiniring dan supervisi konstruksi PLN dibantu konsultan konsorsium Newjec Inc, J-Power, Connusa Energindo dan Kwarsa Hexagon," ungkap Bambang.
Sumber
Selamat Jalan List... Semoga kau bahagia di rantau orang :Yb
JAKARTA SINGGALANG Kabar mengejutkan dari PLN. Di saat listrik sering pudur dan masyarakat diminta melakukan penghematan, justru listrik Sumatra akan dijual ke negara tetangga. Sebaliknya untuk beberapa daerah di Kalimantan, dibeli dari Malaysia.
Demikian disampaikan oleh Direktur Utama PLN Nur Pamudji dikutip detikcom, Sabtu (7/4). "PLN akan menjual listrik ke Malaysia dari Sumatra, dan akan membeli dari Malaysia di Kalimantan Barat," jelas Nur Pamudji.
Dia mengatakan, jumlah listrik yang akan dijual PLN ke Malaysia jauh lebih besar ketimbang listrik yang dibeli oleh perusahaan listrik pelat merah ini dari Malaysia. "Yang dijual jauh lebih besar dari yang dibeli," katanya.
Namun Nur Pamudji tidak menerangkan lebih jauh berapa besaran kapasitas listrik yang akan dijual PLN ke negeri jiran tersebut.
Sebelumnya Dirjen Listrik Jarman mengatakan, PLN tengah memproses pembelian listrik dari Sarawak, Malaysia. Dengan kapasitas 50 megawatt (MW), listrik dari negeri jiran ini akan menerangi daerah perbatasan di Kalimantan Barat.
Jarman menjelaskan saat ini kebutuhan listrik di daerah perbatasan cukup besar. Menurutnya, sesuai syarat dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 42 tahun 2012, pemerintah diperbolehkan mengimpor listrik untuk memenuhi kebutuhan dan tidak menjadi pasokan utama.
Jarman menuturkan, pemilihan Sarawak karena selain lokasi dekat, harga listrik dari daerah tersebut juga lebih murah. Pemerintah yakin, bila proses pembelian ini terealisasi, bisa menghemat biaya operasional.
"Harganya lebih murah. Di daerah Kalimantan dan perbatasan sekitarnya yang dekat Malaysia butuh suplai listrik karena rata-rata masih menggunakan BBM fosil," ujar Jarman.
Jarman menambahkan, saat ini pasca terbitnya PP nomor 42/2012, baru daerah Kalimantan Barat yang melakukan proses pembelian listrik. Namun, pemerintah masih tetap mengupayakan daerah perbatasan lain bila kekurangan pasokan listrik.
Dikatakan dia, hal ini menjadi prioritas pemerintah untuk memenuhi pasokan listrik di dalam
negeri. Selain itu, saat ini pun, Pemerintah belum memiliki keinginan untuk mengekspor listrik karena ingin fokus untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.
Lebih jauh Jarman mengatakan pembelian listrik melalui impor ini juga untuk memperkuat jaringan pasokan antar negara di Asean. Kalau Indonesia nanti sudah bisa memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, Malaysia pun bila membutuhkan bisa membeli listrik. "Tujuannya ke depan bisa saling ada koneksi antar pasokan negara," sebutnya.
Ditender
PLN segera tender proyek interkoneksi jaringan sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatra yang sekarang masih terpisah, direncanakan saling terhubung dalam satu jaringan interkoneksi.
PLN tengah mengembangkan proyek interkoneksi Sumatera-Jawa melalui sistem transmisi kelistrikan yang disebut teknologi Tegangan Tinggi Arus Searah (High Voltage Direct Current/HVDC).
Manajer Senior Komunikasi Korporat, Bambang Dwiyanto mengatakan April ini, PLN mulai menawarkan tender pembangunan proyek interkoneksi Sumatra-Jawa kepada para kontraktor yang berpengalaman mengerjakan proyek-proyek kelistrikan.
Proyek direncanakan mulai dibangun pada 2013 dan ditargetkan beroperasi pada 2017.
Dengan proyek ini, ke depan dimungkinkan menyalurkan energi listrik dari sejumlah pembangkit yang ada di Sumatra Selatan ke Jawa maupun dari pembangkit di Jawa ke Sumatera untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera maupun Jawa-Bali.
"Sistim interkoneksi yang akan dibangun, dirancang mampu menyalurkan daya sebesar 3.000 MW dari Sumatra ke Jawa-Bali maupun sebaliknya," kata Bambang, Minggu (8/4).
Bambang menyebutkan, PLN sedang merintis pembangunan PLTU Mulut Tambang batubara berkalori rendah dengan kapasitas total 3.000 MW di kawasan pertambangan batubara Sumatra Selatan.
"Sedangkan di Jawa juga tengah dibangun pembangkit dalam program Fast Track Program (FTP) 1 serta pembangkit swasta berupa PLTU batubara dengan kapasitas di atas 10.000 MW yang akan memperkuat sistem Jawa," katanya.
Menurut skala ekonomi, sistem kelistrikan dengan pembangkit dan beban yang makin besar akan lebih efisien. Oleh karenanya penggabungan sistem kelistrikan di Jawa-Bali dengan kapasitas terpasang lebih dari 30.000 MW dengan sistem kelistrikan Sumatra dengan beban sekitar 5.000 MW akan berakibat pada peningkatan efektifitas penggunaan energi murah dengan skala ekonomi yang lebih efisien.
Hal ini juga dimaksud memenuhi kebutuhan tenaga listrik di Sumatra dan Jawa-Bali yang di masa mendatang akan terus meningkat seiring dengan semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi di kedua pulau tersebut.
"Proyek interkoneksi Sumatra-Jawa terdiri dari stasiun pengubah listrik AC menjadi DC (stasiun konverter) di Muara Enim dan listrik DC akan diubah kembali menjadi listrik AC (stasiun inverter) di Bogor," jelasnya.
Dijelaskan Bambang, rute yang akan dilewati proyek pembangunan interkoneksi Sumatra-Jawa, di wilayah Sumatra, Kabupaten Muara Enim, Ogan Komering Ulu, OKU Timur, Ogan Komering Ilir di Sumatra Selatan.
Di Lampung meliputi Kabupaten Tulang Bawang, Lampung Tengah, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Sedangkan untuk Jawa akan melewati Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Pandeglang dan Lebak di Banten serta Kabupaten Bogor di Jawa Barat.
Nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra-Jawa diperkirakan mencapai sekitar Rp20 triliun dan sumber dana pembangunan proyek sebagian besar berasal dari Loan JICA (Japan International Cooperation Agency) dan dana pendamping dari anggaran PLN.
"Dalam kegiatan enjiniring dan supervisi konstruksi PLN dibantu konsultan konsorsium Newjec Inc, J-Power, Connusa Energindo dan Kwarsa Hexagon," ungkap Bambang.
Sumber
Selamat Jalan List... Semoga kau bahagia di rantau orang :Yb
putrachan 09 Apr, 2012
