RIYADH, KOMPAS.com - Seorang perempuan Srilanka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Arab Saudi akan menerima kompensasi sebesar 72.000 riyal Arab Saudi setelah selama 17 tahun tidak mendapat bayaran sepeserpun, Arabian Business melaporkan, Senin (26/3/2012).
Kusuma Nandina tiba di ibukota Arab Saudi, Riyadh, pada 1994. Kehidupannya bak seorang budak di rumah itu. Selain tidak digaji, perempuan yang kini berusia 57 tahun itu tidak boleh keluar rumah majikannya, dilarang berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya di Srilanka.
Kisah Kusuma Nandina menjadi perhatian dua tahun lalu ketika putrinya yang berusia 25 tahun menghubungi Kementerian Luar Negeri Srilanka dan melaporkan dia tidak mendengar kabar dari ibunya selama bertahun-tahun.
Pihak Srilanka kemudian mengunjungi rumah sponsornya di Riyadh. Namun mereka mendapat jawaban bahwa tidak ada satu PRT pun yang berdiam di rumah itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, mereka berhasil melacak Kusuma Nandina. Kini perempuan itu bersiap pulang ke Srilanka.
Terungkapnya kasus ini kembali mengangkat kisah perlakukan buruk terhadap para pekerja domestik asing di Arab Saudi.
Tahun lalu pemerintah Saudi tidak lagi mengeluarkan visa kerja bagi tenaga kerja asing asal Indonesia dan Filipina, setelah kedua negara itu menuntut peningkatan gaji dan kondisi kerja yang lebih bagi bagi warga negaranya yang bekerja di Saudi.
Kusuma Nandina merupakan satu dari sekitar 1,6 juta pekerja migran di Timur Tengah dan satu dari 600.000 yang bekerja di Saudi, menurut data Asian Times.
Sistem sponsor yang berlaku di Arab Saudi menyulitkan para pekerja migran karena para sponsor menahan visa mereka. Banyak dari pekerja rumah tangga yang terjebak dan mereka tidak bisa berbuat banyak ketika majikan tidak membayar gaji atau ketika majikan melakukan kekerasan terhadap mereka, New York Times melaporkan.
Pada 2008, Human Right Watch merilis laporan berjudul "As If Am Not Human". Laporan itu mengungkap detail kekerasan yang dialami para pekerja migran asal Asia yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah.
"Memang ada pekerja migran di Arab Saudi yang bekerja pada majikan yang baik dan tempat kerja yang enak. Dalam kasus terburuk, mereka diperlakukan seperti budak. Namun sebagian besar bekerja di antara kedua kondisi itu," papar Nisha Varia, peneliti senior di Divisi Hak-hak Perempuan Human Right Watch, seperti dikutip New York Times.
"Pemerintah Saudi seharusnya memperluas hukum perlindungan tenaga kerja hingga ke pekerja domestik dan mereformasi sistem sponsor visa supaya kaum perempuan yang bekerja mati-matian demi keluarganya tidak mempertaruhkan nyawa.
Mendapat tekanan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk mereformasi sistem sponsor terhadap pekerja Asia, banyak rumah tangga Arab Saudi mengambil langkah praktis dengan mempekerjakan pembantu rumah tangga asal Afrika, menurut Ethiopian Review.
Pada 2009, lebih dari 42.000 perempuan Etiopia pergi ke Arab Saudi untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sembilan puluh tiga persen di antara mereka perpenghasilan antara 100 hingga 150 dollar AS.
Sementara itu pemerintah di seluruh dunia telah mengambil langkah positif untuk memberantas kekerasan terhadap pekerja domestik dengan meloloskan Konvensi Pekerja Domestik, sebuah organisasi yang dibentuk untuk memastikan para pekerja rumah tangga, pengasuh anak, dan juru masak rumah mendapat hak yang sama dengan pekerja lain.
sumber
http://internasional.kompas.com/read...uma.Tak.Digaji
kasian y, ga indonesia, ga srilanka, sama aja nasibnya di negeri org..
sy cmn bisa berdoa untuk keselamatan para TKI indonesia disana
Kusuma Nandina tiba di ibukota Arab Saudi, Riyadh, pada 1994. Kehidupannya bak seorang budak di rumah itu. Selain tidak digaji, perempuan yang kini berusia 57 tahun itu tidak boleh keluar rumah majikannya, dilarang berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dengan keluarganya di Srilanka.
Kisah Kusuma Nandina menjadi perhatian dua tahun lalu ketika putrinya yang berusia 25 tahun menghubungi Kementerian Luar Negeri Srilanka dan melaporkan dia tidak mendengar kabar dari ibunya selama bertahun-tahun.
Pihak Srilanka kemudian mengunjungi rumah sponsornya di Riyadh. Namun mereka mendapat jawaban bahwa tidak ada satu PRT pun yang berdiam di rumah itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, mereka berhasil melacak Kusuma Nandina. Kini perempuan itu bersiap pulang ke Srilanka.
Terungkapnya kasus ini kembali mengangkat kisah perlakukan buruk terhadap para pekerja domestik asing di Arab Saudi.
Tahun lalu pemerintah Saudi tidak lagi mengeluarkan visa kerja bagi tenaga kerja asing asal Indonesia dan Filipina, setelah kedua negara itu menuntut peningkatan gaji dan kondisi kerja yang lebih bagi bagi warga negaranya yang bekerja di Saudi.
Kusuma Nandina merupakan satu dari sekitar 1,6 juta pekerja migran di Timur Tengah dan satu dari 600.000 yang bekerja di Saudi, menurut data Asian Times.
Sistem sponsor yang berlaku di Arab Saudi menyulitkan para pekerja migran karena para sponsor menahan visa mereka. Banyak dari pekerja rumah tangga yang terjebak dan mereka tidak bisa berbuat banyak ketika majikan tidak membayar gaji atau ketika majikan melakukan kekerasan terhadap mereka, New York Times melaporkan.
Pada 2008, Human Right Watch merilis laporan berjudul "As If Am Not Human". Laporan itu mengungkap detail kekerasan yang dialami para pekerja migran asal Asia yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga di Timur Tengah.
"Memang ada pekerja migran di Arab Saudi yang bekerja pada majikan yang baik dan tempat kerja yang enak. Dalam kasus terburuk, mereka diperlakukan seperti budak. Namun sebagian besar bekerja di antara kedua kondisi itu," papar Nisha Varia, peneliti senior di Divisi Hak-hak Perempuan Human Right Watch, seperti dikutip New York Times.
"Pemerintah Saudi seharusnya memperluas hukum perlindungan tenaga kerja hingga ke pekerja domestik dan mereformasi sistem sponsor visa supaya kaum perempuan yang bekerja mati-matian demi keluarganya tidak mempertaruhkan nyawa.
Mendapat tekanan dari kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk mereformasi sistem sponsor terhadap pekerja Asia, banyak rumah tangga Arab Saudi mengambil langkah praktis dengan mempekerjakan pembantu rumah tangga asal Afrika, menurut Ethiopian Review.
Pada 2009, lebih dari 42.000 perempuan Etiopia pergi ke Arab Saudi untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sembilan puluh tiga persen di antara mereka perpenghasilan antara 100 hingga 150 dollar AS.
Sementara itu pemerintah di seluruh dunia telah mengambil langkah positif untuk memberantas kekerasan terhadap pekerja domestik dengan meloloskan Konvensi Pekerja Domestik, sebuah organisasi yang dibentuk untuk memastikan para pekerja rumah tangga, pengasuh anak, dan juru masak rumah mendapat hak yang sama dengan pekerja lain.
sumber
http://internasional.kompas.com/read...uma.Tak.Digaji
kasian y, ga indonesia, ga srilanka, sama aja nasibnya di negeri org..
sy cmn bisa berdoa untuk keselamatan para TKI indonesia disana
yshs2 27 Mar, 2012
