Ketika SBY Lupa Sejarah

[imagetag]


Quote:

Pernyataan Presiden SBY yang menyindir pendahulunya, Megawati Soekarnoputri dan Abdurrahman Wahid bahwa keduanya sewaktu menjadi Presiden RI juga sering menaikkan harga BBM, bisa saja dianggap sebagai sebuah kebablasan.

Presiden SBY mungkin tidak bermaksud mendiskreditkan kedua mantan Presiden RI tersebut. Tetapi karena hubungan SBY dan Mega serta Gus Dur diyakini memiliki ganjelan politik dan ganjelan itu masih menggantung, maka sindiran SBY berpotensi menjadi sebuah persoalan politik nasional.

Gus Dur memang sudah tiada. Tapi pengikut setianya cukup banyak. Para pengikut Gus Dur, belum tentu sependapat bahwa sindiran SBY sebagai sesuatu yang tidak disengaja. Sebaliknya sindiran itu bagi mereka bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa SBY sebagai sosok yang ikut berperan menjadikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), sebuah partai yang didirikan almarhum Gus Dur terbelah seperti saat ini.

Fakta pecahnya PKB menjadi dua, cukup merugikan Gus Dur dan para pengikutnya. Apalagi hubungan antara puteri Gus Dur, Yenni Wahid dan keponakan Gus Dur, Muhaimin Iskandar (sekarang Menakertrans), memburuk.

Menyindir Mega, juga bukan tindakan bijak. Apalagi satu pekan sebelumnya Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sudah mendahuluinya. Anas saat itu mengatakan Megawati pernah mengatakan setuju rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. "Saya baca dari media pada 10 Januari 2012 Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga mantan Presiden Megawati menyampaikan yang realistis adalah menaikkan harga BBM," kata Anas.

Pernyataan Anas dapat dikonotasikan sebagai bagian dari strategi SBY menyerang Mega. Karena Anas menyampaikannya ketika ia berada di Cikeas, rumah kediaman pribadi SBY. Sehingga yang menjadi persoalan adalah ketidak patutan. Sindiran SBY itu semakin tidak patut sebab akhirnya tidak menghasilkan keuntungan buat siapapun kecuali kepuasan ego perorangan di lingkar dalam SBY.

Bangsa atau rakyat Indonesia yang masih sedang terbelah oleh pro-kontra terhadap rencana pemerintahan SBY untuk menaikkan harga BBM, seharusnya dipersatukan oleh pernyataan dan sikap meneduhkan dari para pemimpin. Bukan dengan sindir menyindir. Sindiran tidak pernah menyelesaikan masalah.

Sedangkan secara politis, pernyataan sindiran ini mengisyaratkan bahwa Presiden SBY tidak puas dengan hasil pemungutan suara di DPR-RI Minggu dinihari. Tetapi yang paling mendasar dari ketidakpatutan sindiran itu adalah karena Presiden SBY yang dikenal pintar dan kepintarannya ditandai oleh banyaknya pemberian gelar kehormatan oleh berbagai universitas negara lain, ternyata mempunyai keterbatasan memori. SBY lupa atau melupakan sejarah bangsa Indonesia.

Yang tidak bisa dihapus dari sejarah Indonesia adalah SBY pernah memperoleh kepercayaan dari Gus Dur dan Megawati, ketika kedua tokoh itu pada kesempatan yang berbeda, terpilih menjadi Presiden RI. Suka ataupun tak suka, SBY berutang budi kepada Gus Dur dan Mega. Patutkah SBY menyidir mereka berdua?

Mari kita lihat. Gus Dur menjadi Presiden RI selama kurang lebih satu setengah tahun (Oktober 1999-Juni 2001). Sementara Mega menjadi Presiden pada Juni 2001-Oktober 2004. Perbedaannya, baik Gus Dur dan Mega tidak dipilih melalui pemilu langsung seperti yang dialami SBY.

Gus Dur menjadi Presiden RI pada Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) Oktober 1999. Pemilihan presiden pada waktu itu masih menggunakan mekanisme lama, sama seperti era pemerintahan Soeharto (1966-1988) yaitu yang memilih presiden adalah para anggota MPR-RI yang berjumlah 1.000 orang. Mereka, ketika itu, dinilai mewakili aspirasi seluruh rakyat Indonesia.

Berbeda dengan pemilihan presiden secara langsung yang dimulai 2004, dimana yang memilih langsung adalah seluruh rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih. Mega yang tadinya Wakil Presiden, menjadi presiden pada 2001, setelah Gus Dur dimakzulkan oleh MPR-RI.

Sejarah yang dilupakan SBY adalah setelah Gus Dur terpilih, ia kemudian membentuk Kabinet. Namanya Kabinet Persatuan Nasional yang pelantikannya pada 26 Oktober 1999. Dalam kabinet itu SBY termasuk salah satu anggota kabinet dengan jabatan Menteri Pertambangan dan Energi. Artinya SBY adalah menteri yang mengurusi kenaikan harga BBM.

Hanya saja ketika Gus Dur melakukan perombakan kabinet pada 23 Agustus 2000 atau hanya sekitar 10 bulan, SBY digeser atau tergeser. Tidak jelas atau tidak pernah dijelaskan apa yang menyebabkan SBY digeser kemudian digantikan oleh Purnomo Yusgiantoro. Apakah alasan pribadi, soal kemampuan atau loyalitas yang diragukan?

Tetapi yang pasti, sepanjang pemerintahan Gus Dur, SBY tidak bisa cuci tangan. Boleh jadi ketika SBY sebagai Menteri Perminyakan dan Energi selama 10 bulan, ia tidak pernah memutuskan menaikkan harga BBM. Tetapi dengan menyindir Presiden Gus Dur seperti itu, cara SBY boleh dibilang tidak patut.

Itu sebabnya Presiden SBY perlu diingatkan bahwa sebagai pemimpin, sebagai Presiden, Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Panglima Tertinggi, penerima berbagai gelar doktor kehormatan, sudah sepatutnya Presiden menutup sekuat-kuatnya katup untuk adrenalin penyindir. Termasuk mencari-cari kesalahan pihak lain.

Kebiasaan SBY menyalahkan pemerintahan sebelumnya, mengingatkan bahwa seolah-olah SBY seorang manusia sempurna yang tidak punya saham kesalahan dalam pemerintahan di masa lalu. Seperti halnya ketika SBY menyindir Mega dengan mengeluh bahwa begitu banyak piring kotor yang ditinggalkan oleh pemerintahan Megawati.

Sehingga sewaktu menjadi penerus, yang dilakukan oleh pemerintahannya adalah mencuci piring-piring kotor tersebut. Tentu saja hal itu hanya sebuah perumpamaan. Namun perumpamaan yang tidak patut.

Ketika lima tahun lalu pernyataan ini dikemukakan SBY, tidak banyak yang mau bereaksi. Antara lain karena pada saat itu, SBY dianggap sebagai presiden yang ideal untuk Indonesia. Popularitas SBY sebagai presiden juga sedang bagus-bagusnya. Tetapi pada saat ini, popularitas SBY dan pemerintahannya terus merosot dan tak jauh berbeda dengan apa yang dilakuan Presiden Gus Dur dan Megawati.

Semakin lama SBY berkuasa, semakin berpotensi membuat blunder. Sehingga sudah waktunya SBY diingatkan agar ia lebih berhati-hati dalam membuat penilaian. Sejarawan Indonesia kelak membukukan perannya.

Patutkah SBY menyindir Mega maupun Gus Dur, seorang yang bukan saudara namun pernah memberinya kehormatan? Kalau SBY mau dicatat dan dikenang sebagai negarawan, putera asal Pacitan ini harus berani mengubah cara pandangnya dan tidak boleh merasa benar sendiri.
sumber

INGA INGA :hammer

echohuhuy 02 Apr, 2012