Quote:

*Sebelumnya, tulisan saya ini hanya berupa pengamatan sederhana atas kejadian di dalam busway. sama sekali tidak bertujuan menyudutkan agama dan aliran kepercayaan apapun. Hanya mengingatkan bahwa kadang kita perlu melihat orang dari sudut yang berbeda dan kedalaman yang tidak sama.

TransJakarta atau yang akrab disapa dengan busway ini memang selalu menarik dan menghadirkan cerita. Saya adalah pengguna setia busway, dan cukup sering menemukan tingkah laku manusia yang kadang "ajaib" di dalam alat transportasi yang selalu padat ini.

Hari ini saya berangkat ke kantor agak siang dengan tujuan menunggu busway kesayangan sedikit kosong. Memang untuk pagi hari sedikit berlebihan rasanya jika saya mengharap sebuah bangku kosong. Naik dari halte transit Matraman, nampaknya bus sudah cukup padat dan harus berdiri. Saya naik bersamaan dengan seorang ibu tua jika berkenan akan saya sebut "nenek". Saya heran, dimana anak atau cucunya yang dengan tega membiarkan sang nenek berdesak desakan di angkutan ini? mungkin kesibukan , keterbatasan waktu dan keterbatasan ekonomi yang membuat nenek ini tidak mendapatkan kenyamanan seperti yang mungkin seharusnya dirasakan oleh orang berusia senja.

Sang nenek berpenampilan sederhana dengan jilbab kuning yang menutupi kepala dan baju muslim panjang berwarna pastel. Jalannya sudah tidak terlalu tegap dan badan sedikit bungkuk. Si nenek dan saya memasuki bagian depan busway yang digunakan untuk penumpang wanita. Segera saya berdiri di sebelah si nenek, awalnya saya pikir seorang perempuan muda berjilbab dengan jaket almamter dari sebuah perguruan tinggi yang berada di depan si nenek akan dengan ramah memberikan kursinya pada nenek tersebut, ternyata tidak! Gadis itu dengan cueknya tetap duduk dan membaca catatan mungkin berisi materi kuliah. Tepat di sebelah perempuan muda itu ada seorang perempuan muda lain berpenampilan cantik ala karyawati kantoran, dengan blazer hitam formal, rok hitam selutut, sepatu flat yang serasi dan… sebuah kalung salib yang cukup mencolok di lehernya. Saya pikir mungkin wanita ini punya pemikiran yang lebih dewasa sehingga merelakan kursinya untuk si nenek, ternyata tidak juga!

"Nek, sini duduk sini!" suara seorang gadis yang terdengar tiba-tiba dan cukup keras membuat ku menoleh ke sumber suara, ternyata berasal dari seorang perempuan muda yang duduk di balik badan si nenek (seberang gadis karyawati dengan kalung salib dan blazer hitam). Sedikit mengerutkan kening saya melihat penampilan gadis ini. Berpenampilan gothic! sedikit kumal, dengan rambut pendek tidak tersisir, tato burung di leher dan pergelangan tangan, kuku jari tangan di cat hitam. Pembawaannya sangar dengan beberapa gelang karet di tangan, ditambah celana jeans pendek yang sobek di beberapa tempat, kaos hitam dengan lengan digulung dan bertuliskan "I'M YOUR DEVIL", lengkap dengan gambar setan abstrak. Haduh!

Realitanya, dia mungkin DEVIL yang punya hati lebih besar dibandingkan yang gadis cantik yang berpenampilan ANGEL alias malaikat.

Begitulah manusia terkadang tertawa manis dan membawa atribut Tuhan mereka masing masing di tempat umum, berteriak- teriak mengatas namakan Tuhan (atau Agama?) barbahasa sangat halus ,membawa bahasa yang agamis, dan berpenampilan agamis, tetapi mereka lupa bahwa mungkin Tuhan itu tidak selalu datang dalam rupa yang sempurna yang mereka akan sambut dengan memuji dan mengelu-elukan. Ah saya jadi berpikir jika siang itu hari terakhir dalam dunia ini mungkin si nenek adalah malaikat yang disuruh sang pencipta untuk menguji kedalaman hati umatnya… hm… bisa bisa yang terkadang menggunakan simbol DEVIL alias setan yang mungkin mencicipi surga? yang lainnya? wah mana saya tahu… semua hak sang Pencipta, berpikir positif saja mungkin mbak-mbak yang lain tadi itu tidak memberikan kursinya untuk si nenek karena sudah berbuat baik sebelumnya, atau dengan alasan klasik "karena sama-sama antri"

Membawa simbol agama dengan percaya diri di tempat umum memang tidak salah, bagus malah! tetapi sesuaikan dengan kelakuan anda karena terkadang simbol agama menjadi suatu identitas yang cukup berat, setidaknya ini anggapan pribadi saya. Saya rasa sebagai manusia apapun agamanya, apapun warna kulitnya orang akan lebih menghargai apabila kita mampu membawa diri kita dan peduli dengan lingkungan kita.

Rupanya pepatah jangan menilai buku dari sampulnya masih berlaku juga di dalam busway….

sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/urba...i-untuk-nenek/
hati - hati banyak sekali anak setan nyamar jadi orang alim! tidak semua yang pakai sorban,.... pake salib... pake apapun simbol agamanya itu berarti orang bener... !!! banyak yang cuma topeng untuk menutupi kebengisan!

eneihem 30 Mar, 2012