Pengobatan Bunga Bangkai Dibanjiri Pasien 141x106 Cabut Bunga Bangkai, Kapolsek Dikeroyok, Dijadikan Sarana Pengobatan Alternatif
Warga yang berharap kesembuhan
Memo — Kapolsek Tembelang, AKP Gatot Sudiyoto akhirnya minta maaf kepada masyarakat Dusun Kedungmangu, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Permintaan maaf secara terbuka itu dilakukan di balai desa setempat. Hadir dalam acara itu seluruh unsur Muspika. Usai permintaan maaf itu, mobil Avanza milik Kapolsek akhirnya diserahkan. Padahal mobil itu disandera hampir 24 jam. Bahkan sebelumnya, Kapolsek Tembelang ini sempat dikeroyok warga Kedungmangu. Pasalnya, Kapolsek Gatot dianggap bertindak arogan dengan mencabut bunga ‘bangkai’ yang dipercaya bertuah itu. Bukan hanya itu, mobil pribadi milik Gatot juga disandera oleh warga. “Saya minta maaf karena sudah terjadi kesalah pahaman di Dusun Kedungmangu. Setelah ini jangan ada rasa saling menyalahkan,” kata Kapolsek dihadapan tokoh masyarakat.
Dalam forum tersebut juga disepakati bahwa pengobatan alternatif ala Ponari yang dilakukan oleh Sudarminto tetap bisa dilakukan. Hanya saja, masyarakat diminta menjaga situasi agar tetap kondusif. “Pengobatan Sudarminto tetap dilakukan,” kata Kepala Desa Kedunglosari, Sungkono.
Sementara itu, pengobatan alternatif di Dusun Kedungmangu, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, terus dibanjiri pasien. Sebanyak 100 lembar kupon antrean yang disediakan panitia ludes dalam beberapa jam. Oleh karena itu, warga meminta polisi jangan bertindak arogan dengan melakukan penutupan. Jika jumlah terus membludak, warga berjanji akan meminta bantuan polisi. “Kami meminta agar pengobatan ini tetap dibuka,” kata Siswanto, salah satu panitia pengobatan, Senin (17/10).
Meski menggunakan media air. Namun pengobatan yang dilakukan Sudarminto (40) relatif berbeda. Seorang pasien datang membawa air mineral. Setelah antre, mereka kemudian masuk ke rumah milik Sudarminto yang terbuat dari bilik bambu. Begitu air disodorkan, pria yang bekerja sebagai petani ini langsung komat-kamit membaca mantera. Sejurus kemudian, Sudarminto meniup air tersebut. Nah, baru kemudian air tersebut diserahkan kembali ke si pasien.
Sutamah (45) pasien asal Desa Tapen, Kecamatan Kudu mengatakan, dia mendengar kabar keampuhan pengobatan alternatif itu dari saudaranya. Dia kemudian mendatangi rumah warga Dusun Kedungmangu tersebut. Sutamah menderita sakit pegel linu sejak setahun terakhir ini. “Ya coba-coba saja, siapa tahu sembuh,” kata Sutamah disela antrean.
‘Kesaktian’ Sudarminto (40) bermula saat ia merasa mendapat wahyu bisa mengobati orang empat hari lalu. Dini hari itu juga, dia lantas memanggil nama tetangganya yang sakit menahun. Singkat cerita, tetangga yang sakit itu pun langsung sembuh begitu minum air dari Sudarminto. Sejak itu, banyak tetangga yang mendatangi rumah petani tersebut dengan membawa air untuk didoakan guna dipakai obat.(bjc/yan)